Sabtu, Desember 17, 2011

INTROPEKSI



“Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah murid yang tidak berkesempatan bertemu dengan guru yang baik”
Written by Muhammad Jazari
Saturday, 18 June 2011 06:15~ Mario Teguh ~ Publikasi by Mifta

Pernyataan motivator di acara Goalden Weast Metro TV dalam memperingati hari Pendidikan Nasional tanggal 20 Mei 2010 di atas yang membawa titik kesadaran sangat tinggi pada diri kita bahwa sesungguhnya kita sebagai seorang pendidik yang profesional harus selalu berbenah dan memperbaiki proses belajar mengajar yang biasa kita lakukan.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbigan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.
Kompetensi guru yang sudah lazim didengar dalam pelatihan masih terlalu “gersang” untuk menggerakkan spirit seorang guru. Entah itu yang namanya kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional maupun kompetensi sosial seolah menjadi wacana awal seorang pendidik yang kemudian mudah dilupakan, jauh dari character building seorang pendidik.

Tuntutan meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru seperti dalam PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan yaitu kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional dan sosial disadari maupun tidak sesungguhnya sudah diajarkan oleh “gurunya para guru” di sepanjang masa yaitu Rosulullah SAW., beliau betul-betul mampu memerankan dirinya sebagai gurunya manusia. Setiap Nabi memiliki safat-sifat asasi yang selalu melekat pada dirinya, yaitu sifat Shidiq (benar dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan batin sehingga bisa diteladani, selalu bersikap ilmiah), Amanah(kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan sesuatu dengan komitmen penuh, kerja keras dan konsisten, serta profesional),Fathonah (memiliki kecerdasan, kemahiran dan penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual) dan Tabligh (kemampuan menyampaikan dan merealisasikan dengan pendekatan atau metode yang sesuai).
Dalam bukunya “Sekolahnya manusia : Sekolah berbasis Multiple Intelligences di Indonesia” yang diterbitkan oleh Mizan Pustaka (2009) menyebutkan, untuk menjadi sekolah yang unggul, salah satunya harus memiliki “the best teachers” yang mampu menjadi gurunya manusia, yaitu guru sebagai fasilitator, mengajar dengan menyesuaikan gaya belajar siswa dan selalu memantik rasa ingin tau siswa sehingga menghasilkan pelajaran yang mudah dan menyenangkan. Guru yang baik juga harus memiliki kemaun yang kuat untuk maju.
Dilihat dari faktor “kemauan” untuk maju, maka ada tiga jenis kelompok guru.Pertama, yakni guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar lalu pulang. Mereka tidak memiliki kepedulian terhadap kesulitan atau masalah siswa dalam menerima materi, apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Mereka tidak peduli dan mirip robot yang selalu menjalankan perintah berdasarkan apa saja yang sudah diprogramkan.
Kedua, guru materialistik, yakni guru yang selalu melakukan hitung-hitungan, mirip dengan aktivitas jual beli atau lainnya. Parahnya yang dijadikan patokan adalah “hak” yang mereka terima, barulah “kewajiban” mereka akan dilaksanakan tergantung dari hak yang mereka dapatkan. Guru ini pada awalnya merasa profesional, namun akan terjebak pada “kesombongan” dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat bonafiditasnya dalam bekerja.
Munculnya program sertifikasi guru memberikan gambaran yang jelas betapa masih banyak diantara kita yang memiliki sifat seperti itu. Dengan mendapatkan tunjangan profesi satu kali gaji, guru yang seharusnya mengalami perubahan dan lebih profesional ternyata dimata banyak pihak tidak mengalami perubahan yang berarti bahkan cenderung stagnan. Hasil penelitian Prof. Dr. Baedowi, M.Si., menunjukkan bahwa guru yang telah lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan (Kompas, 13 November 2009).
Ketiga, gurunya manusia, yakni guru yang mempunyai keihklasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa terget pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan, guru yang memiliki produktifitas, berharap hasil yang terbaik. Guru yang ikhlas untuk intropeksi apabila ada siswa yang tidak memahami materi yang diajarkan. Gurunya manusia, juga guru yang membutuhkan “penghasilan” untuk memenuhi kebutuhan hidup, hanya bedanya dengan guru materialistik adalah mereka menempatkan penghasilan sebagai akibat yang didapat dengan menjalankan kewajibannya, yakni keikhlasan belajar dan mengajar.
Gurunya manusia memiliki keyakinan bahwa guru yang kaya pada dasarnya adalah guru yang memiliki tabungan kebaikan yang melimpah (surplus kebaikan), menjadikan profesinya sebagai investasi jangka panjang yang penilaiannya bukan dari banyaknya penghasilan yang dikumpulkan, melainkan dari banyaknya ilmu yang diberikan dan dimanfaatkan bagi perbaikan generasi mendatang.
Ada tiga karekter perilaku yang seyogyanya dihindari oleh para pendidik yang menginginkan dirinya sebagai gurunya manusia. Tiga virus yang sering menggerogoti spirit seorang pendidik, begitu cepat menular, tumbuh bak jamur dimusim hujan. Virus itu antara lain, pertama, virus sak geleme(semaunya). Virus ini mudah menyerang bagi seorang pendidik. Prilaku ini sangat berhubungan dengan motivasi pendidik. Apabila seorang pendidik sudah tidak menghadirkan dirinya sebagai seorang motivator, apa jadinya anak-anak yang didiknya. Prilaku sak geleme menandakan sebagai pendidik yang tidak mempunyai motivasi mendidik.
Kedua, virus sak bisane (sebisanya). Virus ini sudah menyangkut visi seorang guru, idealisme pendidik dalam pembuatan lesson plan, budaya konsultasi, ketelitian observasi dan pengembangan kreativitas. Artinya prilaku sak bisane mencerminkan ia tidak mempunyai visi sebagai pendidik, tidak mau belajar untuk menjadi cerdas.
Mengutip pemikiran M. Furqon Hidayatullah (2009), Guru yang cerdas tidak hanya sekedar memiliki kemampuan yang bersifat intelektual untuk dirinya sendiri, tetapi kemampuan secara emosional dan spiritual sehingga mampu membuka mata hati peserta didik untuk belajar yang selanjutnya mampu hidup dengan baik ditengah-tengah masyarakat.
Dan ketiga, virus sak tekane (sesampainya). Virus ini sangat erat hubungannya dengan produktivitas guru dan target guru, tidak hanya target kedisiplinan dalam dirinya, mereka pun tidak mempunyai tujuan yang ingin dicapai untuk keberhasilan dan ketuntasan dalam kegiatan belajar mengajar. Prilaku sak tekanemenggambarkan ia tidak mempunyai tujuan dan target sebagai pendidik.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah, untuk menjadi gurunya manusia maka kita harus banyak belajar agar dapat mewarisi sifat-sifat kenabian yaitu Shidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh. Dengan sifat-sifat ini, kita berharap memiliki visi yang benar dalam mendidik, menjadi taladan bagi peserta didik, mamapu memotivasi siswa untuk menjadi lebih baik dan produktif dalam menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk orang lain.

Sumber: http://sman1karanggede.sch.id/index.php/guru-menulis/77-artikel/62-menjadi-guru-manusia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar